Kuliah S1 di Jerman Tanpa Beasiswa

Kalau biasanya banyak mahasiswa yang berkuliah S2 ataupun S3 di Jerman, bukan hal yang gak mungkin juga dong untuk S1 di sini. Tapi sayangnya sangat sedikit beasiswa yang ditujukan untuk program S1 ke Jerman. Kebanyakan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jerman mengambil jalur mandiri alias tanpa beasiswa. Ribet gak sih kuliah S1 disana dan langkah-langkahnya bagaimana?

Yuk, mari kita bahas!

Seperti yang pernah aku kasih tau di tulisan sebelumnya - Kenapa Jerman? - aku pribadi berangkat kuliah di Jerman melalui salah satu agen yang ada di Indonesia. Agen ini yang bertanggungjawab mengurus segala keperluanku untuk kuliah di sini. Tapi sekarang, mari kita lupakan sejenak tentang agen. 

Langkah - Langkah Kuliah S1 di Jerman

1. Kursus bahasa Jerman 
Selain karena kuliah S1 disini menggunakan bahasa pengantar wajib bahasa Jerman, kursus bahasa menjadi hal terpenting sebelum hidup di negara ini. Yaiyalah yaa masa tinggal di negara orang tapi kita sendiri gak paham dengan bahasa setempat hehe kan lucu juga. Hal penting dalam berkomunikasi itu kan bahasa. Kalau kita gak ngerti, gimana caranya bisa berkomunikasi dengan baik? Nanti terjadi kesalahpahaman dan membuat segalanya menjadi kacau. Apalagi salah paham antara kau dan dia :") Tapi ada hal yang lebih penting dari itu.

Teman-teman yang ingin melanjutkan S1 di sini terlebih dahulu harus mempunyai sertifikat bahasa Jerman. Selain untuk syarat apply visa, sertifikat ini juga sangat penting untuk mendaftar Studienkolleg - sekolah penyetaraan bagi mahasiswa asing yang ingin berkuliah di Jerman. 

Berdasarkan info terakhir yang aku dapatkan, minimal teman-teman sudah memiliki sertikat bahasa Jerman level A1 sebagai syarat apply visa. Tapi untuk mendapatkan sertifikat ini di Indonesia, masih hanya ada satu lembaga yang diakui oleh pemerintah Jerman, yaitu Goethe Institut. Jadi, silahkan teman-teman bisa mengikuti les dan ujian mendapatkan sertifikat di sana. Setelah itu bisa apply visa ke Kedutaan Jerman dan lengkapi syarat-syaratnya. Info lebih lanjut mengenai pengurusan visa bisa cek disini.

Kalau aku dulu les bahasa di Indonesia cuma sampai level A1, kemudian apply visa dan nantinya lanjut kursus lagi setelah sampai di Jerman. Aku mengikuti program intensiv setiap hari di lembaga bahasa yang ada di kota Aachen hingga mendapatkan sertifikat bahasa Jerman level B1. Akhirnya dengan sertifikat B1 ini aku bisa mendaftar untuk mengikuti ujian masuk Studienkolleg.

Oiya untuk level bahasa Jerman sendiri dimulai dari A1, A2, B1, B2, C1, C2 dan kemudian DSH. Di tahun 2013 syarat untuk bahasa masih bisa di level B1 tapi info terakhir dari adik kelas yang baru saja mengikuti ujian, syarat bahasa sudah harus B2.

2. Studienkolleg
Sebelum duduk di bangku perguruan tinggi yang ada di Jerman, kita sebagai mahasiswa asing terlebih dahulu harus mengikuti Studienkolleg selama 2 semester. Tetapi sebelumnya harus mengikuti ujian masuk dan ini sejujurnya berat. Bukan karena bahan yang diujiankan, tetapi karena saingan, bahkan kita bersaing dengan teman sendiri. Serem gak tuh?

Studienkolleg menerima mahasiswa baru setiap semesternya. Ada Wintersemester dan Sommersemester. Tetapi sayangnya hanya sedikit Studienkolleg yang buka saat Sommersemester. Selain itu juga ada kuota negara per masing-masing Studienkolleg dan hanya di buka satu kelas per masing-masing jurusan.

Bahan yang diujiankan saat itu sebenarnya hanya ujian bahasa Jerman dan MTK. Itu semua tergantung dengan kelas yang nantinya teman-teman ambil.

Di Studienkolleg ada 4 kelas/jurusan:
a. M-Kurs, bagi teman-teman yang nantinya akan berkuliah di jurusan berbau IPA, kedokteran, gizi, dsb. 
b. T-Kurs, bagi teman-teman yang nantinya berkuliah di bidang teknik.
c. W-Kurs, bagi teman-teman yang nanti akan berkuliah di jurusan yang berbau ekonomi, bisnis, dsb.
d. G-Kurs, bagi teman-teman yang nantinya berkuliah di jurusan media, seni, sastra, politik, dsb.

*Lain waktu akan kita bahas lagi seputar Studienkolleg

Lanjut dengan ujian masuk tadi, untuk teman-teman yang akan mendaftar di M-Kurs atau G-Kurs, bahan yang diujiankan adalah bahasa Jerman. Tetapi bagi yang mendaftar di W-Kurs ataupun T-Kurs, harus mengikuti ujian tambahan yaitu MTK. 

Seperti yang aku bilang tadi, hal terberat itu adalah karena faktor kuota per negara. Setiap semester hanya di buka masing-masing satu kelas per jurusannya. Berarti hanya ada satu kelas M-Kurs, T-Kurs, W-Kurs dan G-Kurs. Lebih beratnya lagi adalah per kelas tersebut hanya berisi mungkin 30an orang mahasiswa dan untuk kuota negara juga dibatasi. Hanya ada 5-6 mahasiswa Indonesia yang diterima per kelasnya. Saingan berat bukan? Karena peserta ujian dari Indonesia sendiri bisa mencapai ratusan, sedangkan bangku yang kosong hanya puluhan. Tidak jarang banyak mahasiswa yang sulit diterima di Studienkolleg. Mengikuti ujian masuk yang ada di setiap Studienkolleg, dari kota A ke kota B, itupun kalau kita mendapatkan undangan untuk mengikuti ujian.

Jadi setelah mendaftar Studienkolleg, kita harus menunggu jawaban surat dari Studienkolleg yang kita daftar, apakah kita mendapatkan undangan untuk mengikuti ujian masuk atau tidak. 

Singkat cerita, setelah diterima di Studienkolleg, teman-teman belajar disana selama 2 semester dan pada akhir semester juga ada yang namanya ujian akhir. Jika lulus, barulah bisa mendaftar kuliah di semua universitas yang ada di Jerman.

3. Kuliah
Hal terberat yang dilalui sebelum duduk di bangku perkuliahan adalah Studienkolleg. Selama 2 semester harus berjuang mati-matian untuk lulus dan mendapatkan nilai yang memuaskan agar bisa diterima di universitas yang kita mau. Untuk penerimaan mahasiswa baru di universitas kita gak perlu lagi mengikuti ujian masuk. Cukup mengirimkan lamaran ke masing-masing universitas yang kita mau. 

Menurutku sih asal kita sudah lulus Studienkolleg, kemungkinan besar kita diterima di universitas sangatlah besar.

Di Jerman sendiri ada yang istilah freie Zulassung yang artinya untuk beberpa jurusan tertentu di tiap kampus, pelamarnya tidak diberikan batasan nilai. Jadi, siapapun yang mendaftar jurusan yang freie Zulassung pasti diterima di kampus tersebut. 

Beda halnya apabila jurusan itu memiliki NC (Numerus Clausus), yang mana tidak semua pelamar bisa diterima alias punya batasan nilai atau mungkin bisa kita sebut KKM. 

Setelah resmi menjadi mahasiswa di kampus, saatnya berkuliah dengan rajin agar bisa menyelesaikannya dengan baik dan pulang ke Indonesia dengan membawa titel sarjana hehe. 

Oiya sedikit tambahan nih, bagi teman-teman yang ingin berkuliah S1 disini, sebenarnya masih ada pilihan lain sih yang lebih aman. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang harus pulang kembali ke tanah air karena tidak kunjung diterima di Studienkolleg. Sedangkan kita sendiri diberikan waktu 2thn sampai diterima menjadi mahasiswa resmi di kampus. 

Saran dari aku sih, bagi teman-teman yang akan lanjut S1 di Jerman, mungkin lebih baik kursus bahasa di Indonesia hingga level yang cukup untuk syarat mendaftar Studienkolleg dan akan lebih baik lagi jika teman-teman sudah pasti diterima di Studienkolleg barulah berangkat ke Jerman. Biar lebih hemat biaya dan waktu. Ada juga kok beberapa Studienkolleg yang bisa test di Indonesia. Sayangnya aku dulu gak tau info ini, akhirnya berjuang dari awal banget langsung di Jerman. Semuanya tergantung pilihan masing-masing :)

2 comments:

  1. keren.. nekat itu memang perlu perhitungan .. :)

    ReplyDelete
  2. great info ^_^v
    boleh share info agent nya? thanks ya

    ReplyDelete

Naik dan Turun Gunung Pilatus dengan Total Waktu 13 Jam

Sejak SMA aku suka "pergi ke alam". Entah itu pergi ke gunung, goa atau hanya sekadar menginap di hutan. Tergabung dalam ekskul ...