Hi

HI. Sapaan yang melekat erat di kepalanya. Saat langit mulai gelap, perlahan memancarkan warna jingga oranye di sisi Barat. Matahari mulai menghilang disambut cahaya bulan yang malu-malu untuk menyapa.

Dia, wanita berkerudung hitam itu duduk termenung di sisi kiri gerbong, memandang jauh ke luar jendela saat sapaan itu datang.

Ah betapa beruntungnya dia. Siapa sangka sapaan itu ternyata mampu mengubah harinya. Aku masih ingat beberapa hari sebelum kejadian itu, dia hanya bisa mencoba untuk tetap menghadirkan senyum. 

Sudah lama aku berteman baik dengannya, tapi belum pernah aku dapati dia seperti itu. Bibirnya tetap menoreskan senyuman manis, tapi matanya berkata lain. Hatinya ingin memberontak, mulutnya ingin berucap hingga akhirnya bendungan di matanya pecah menyapu pipinya. Pecah! Tangisan itu pecah di setiap malam. Sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan saat itu.

"Kamu kuat," ucapku, "Perlahan cobalah lagi, pasti ada jalan keluarnya."

Yaa itu kejadian beberapa bulan yang lalu, hingga datanglah seseorang yang kembali membuatnya tersenyum. Mengusir mendung, mendatangkan cerah. Disepanjang harinya lelaki itu mampu membuatnya bahagia. Tidak mewah, tidak mahal, sangat sederhana. Sesederhana ucapan selamat di pagi dan malam hari. Sesederhana kejutan-kejutan darinya. 

Aku tak menyangka hal itu akan berlanjut sebahagia ini. Aku menantikan Happy Ending dari mereka berdua. Seandainya aku kenal dengan lelaki itu, ingin rasanya aku berucap padanya "Terimakasih telah menyapa teman baikku hari itu. Kamu adalah sosok lelaki impiannya, membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik."

Ah andaikan lelaki itu tahu bagaimana dia sekarang. Tidak banyak pintanya, tidak mahal inginnya. Hanya ingin lelaki itu selalu bersamanya. Ah betapa geregetannya dia saat rindu mulai datang. Ingin rasanya bertemu dan memeluk erat, tapi waktu belumlah berpihak padanya. Hanya melalui layar kecil ini dia mencoba melepas rindu. Memandangi layar yang penuh dengan foto lelaki itu. Mendengarkan suara alunan indah dari speaker kecil itu. Kemudian perlahan mulai terhanyut.

Di setiap keheningan malam namanya selalu disebut. Menyampaikan pesan rindu lewat doa. Meminta agar dia selalu baik disana. 

Hai kamu, lelaki yang dulu pernah menyapa teman baikku ini. Dia mungkin tidak semahir pujangga dalam merangkai kata romantis. Dia mungkin tidak seperti pelukis yang handal dalam melukiskan isi hatinya. Jagalah dirimu baik-baik disana, karena ada rindu yang harus dibayar tuntas. Ada perempuan yang selalu menunggu hadirmu disini, menunggu saat dimana kedua pasang mata itu kembali menatap. 

No comments:

Post a Comment

The Virtual Friend - Akhirnya Terbit!

[literally as writer] Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tapi, ternyata tidak semua hal yang berhubungan dengan penantian itu me...