Kenapa lebih memeilih marah dan cekcok jika tawa dan kasih sayang itu lebih indah?

Kali ini aku ingin bercerita sebuah kisah nyata dari orang yang sudah ku kenal dekat. Cerita tentang perasaan yang mengganjal di hatinya, yang tak akan pernah bisa terlontarkan.

Kenapa lebih memilih marah jika tawa itu lebih indah?
Kenapa lebih memilih cekcok jika itu akan membuat kita jauh?
Kenpa gengsi untuk melontarkan maaf dan sayang padahal itu bisa membuat kita semakin dekat?

Dia, seorang anak yang terlahir di keluarga yang harmonis, tapi pada hakekatnya belum sangat harmonis. Diantara mereka anggota keluarga masih terdapat dinding transparan yang memisahkan. Padahal mereka saling tau, saling melihat, tapi seolah-olah tidak melihatnya,

Kata orang, cekcok dalam rumah tangga itu ibarat "bumbu" pelengkap. Tapi menurutku itu bukanlah pelengkap, tapi malah pemisah. Kenapa harus membeli "bumbu" itu padahal mereka tau rasanya tak enak?

Dulu, dulu sekali, saat dia masih kecil, dia sering mendengar ucapan tak enak, dimana kedua belah pihak (re:orangtua) berantem, kadang hanya dengan masalah sepele. Saat itu dia tak bisa banyak bicara, dia hanya mendengar, bertingkah lebih hati-hati, karena jika salah sedikit saja, yaa kemarahan juga akan terlontar kepadanya. Sebagai anak dia hanya bersikap diam, tak berani bicara banyak, mengatakan perasaan yang sesungguhnya.

Semakin hari anak ini semakin tumbuh dewasa. Dikala remaja, cekcok yang dulunya ada tak lagi terdengar. Sungguh keadaan yang sudah lama dinantikan. Kehidupan keluarga yang semakin membaik ditambah lagi karena ekonomi yang juga membaik.

Tapi masih ada sesekali keadaan tidak enak itu datang, tapi tak berlangsung lama dan menakutkan. Ini lebih permasalahan dia dengan ibunya. Dari kecil dia adalah anak yang berprestasi, tak jarang kedua orangtuanya menaruh harapan besar kepadanya. Tapi terkadang dia merasa, harapan itu malah membuatnya takut dan memikul beban yang semakin hari semakin berat, tak berani melangkah jauh karena takut salah, salah yang berujunag pada kemarahan.

Setiap saat dia dituntut untuk menjadi yang terdepan. Tuntutan? Yaa kali ini hal itu menjadi tuntutan, bukan hanya sekedar harapan lagi. Disaat semua tak sesuai dengan harapan dia si pengharap, itu bisa menjadi bencana buruk baginya. Merusak segalanya.

Dia punya ketakutan dengan nilai. Aneh bukan? Disaat teman-temannya berkata bahwa nilai itu bukan apa-apa, disaat orang lain berkata bahwa nilai tinggi, juara bukanlah sebuah keharusan untuk anak mereka, disaat itulah bathinnya berkata, "kapan orangtua ku seperti ini?".

Sampai kapan keadaan ini tetap awet?
Apa mereka tak mengingat anak-anak mereka?
Ini sangat berpengaruh untuk si anak. Sampai kapanpun kejadian itu tak akan pernah hilang dalam ingatan mereka, Sampai kapanpun pasti ada sedikit ingatan yang tetap tertancap di otaknya.

Dan satu lagi, jangan sampai dengan kejadian ini si anak malah bersikap yang tidak semestinya.

@SMPNINE10

Siang itu, di kamar, layaknya gadis-gadis yang tak ada kerjaan, tiduran di kasur dan tak lupa HP pastinya di tangan. Utak atik HP, cek social media, mulai dari BBM, Line, Instagram, Path dan tak lupa Facebook. Yaa semenjak aku disini, Facebook kembali aku gunakan, yang mungkin di daerahku dia tak lagi menjadi social media favorite kawula muda.

Entah kenapa saat itu aku penasaran, grup-grup apa ajasih yang ada di Fb ku, sekalian mau ngerapiinnya juga, keluar dari grup yang tak jelas dan merapikan list pertemanan. Sampailah aku pada pilihan grup ALUMNI SMP 9 PDG 2009/2010. Penasaran dengan grup alumni, akhirnya aku ngescroll sampai ke bawah ngeliatin dan ngebaca setiap postingan yang pernah kita post beberapa tahun lalu. Satu persatu postingan tersebut aku baca, ketawa sendiri, ngakak sendiri dan seketika aku terdiam. Di dalam hati aku berkata, "Sungguh banyak kenangan kita. Sungguh indah saat-saat kita bersama dulu. Kapan yaa kita bisa kumpul lengkap dan tertawa bareng lagi?". Pertanyaan itu memunculkan keinginan untuk mengadakan reuni angkatan. Tapi tak hanya itu sih yang memunculkan ide tersebut, melainkan ketika aku membaca setiap postingan teman-teman yang nanya "Kapan kumpul?", "Gak ada reuni nih?", dsb. ditambah lagi dengan comment "ayuuk" atau "angkatan kita gak kompak" atau "percuma aja ajak ngumpul, karena gak ada yang ngurus", dll. Aku bertanya di dalam hati, "Kenapa yaa reuni gak pernah jadi? Mereka yang benar-benar gak mau atau emang karena gak ada yang mau mengurusnya?". Otomatis aku penasaran dong alasannya apa. Yaudah inisiatif posting di grup yang udah lama gak ada postingan tertera disana dan selama ini jadi tempat promosi Pin BBM yang minta diinvite. 

Awalnya aku post di halaman grup, nanya ke mereka gimana kalu kita ngadain reuni, setuju atau enggaknya. Alhasil seperti layaknya grup yang bisa dibilang udah lama "gak aktif", postingan aku cuma diread dan dilike. Okay, cara ini gak berhasil. Aku masih belum menemukan jawaban dari pertanyaanku tadi. Selanjutnya coba cara lain. Aku putuskan untuk menghubungi mereka satu persatu. Aku cek setiap profil mereka, kirim pesan ke mereka, tanyain pendapat mereka. Kali ini aku chat mereka seolah-olah kita sangat dekat. Sapa nama mereka, nanyain pendapat mereka langsung, seolah-olah mereka orang terdekatku, bukan chat yang umum.

Alhamdulillah dari setiap jawaban yang aku dapat, semuanya memberikan respon negatif dan sekaligus pertanyaan terlontar kepadaku, seperti "Bisa aja sih cyn, tapi kita kan gak punya semua kontak mereka", "Mungkin aja cyn, tapi kita harus cari dan kumpulin kontak teman-teman dulu soalnya udah lama kan kita gak komunikasi", dan banyak lagi. Dengan jawaban seperti itu, aku ngerasa tertantang dan PD. Dalam hati aku berkata, "Okay, kontak yang belum terkumpul. Bisalah aku cari satu-satu. Pasti bisa, tinggal cek anggota grup, bbm, line, instagram dan social media lainnya".

Setelah menjelajahi setiap social media yang aku punya, bahkan melihat setiap pertemanan teman-temanku, mana tau ada tambahan disana yang mungkin belum berteman denganku di social media, Alhamdulillah kurang lebih 100 kontak sudah terkumpul lagi. Seneng banget rasanya saat itu. Setiap hari list teman-teman dulu semakin bertambah. Di pikiranku sudah terbayang betapa indahnya reuni nanti, ketemu mereka, kita berbaur lagi.

Asiknya lagi karena ada diantara mereka yang ingin membantuku, karena gak mungkin aku sendiri yang melakukannya. Akhirnya kita bentuk kepanitiaan yang terdiri dari Penanggung Jawab per kelas, dimulai dari 9.1 sampai 9.7. Dengan bantuan mereka, aku meminta tolong agar mereka mengumpulkan kontak-kontak teman sekelas mereka dulu.

Karena saat itu aku masih berada di Jerman, aku gak bisa dong ikutan rapat dan gak mungkin kalau rapat ketika aku udah di Padang, waktunya gak akan cukup. Aku minta tolong ke mereka untuk rapat dulu sebelum aku sampai di Padang. Darisini aku kirimkan konsep reuni yang aku punya dan giliran mereka yang disana untuk menambahkan konsep tersebut. Aku ingin reuni kali ini kita semua berbaur, gak terpisah-pisah karena kelas atau semacamnya. Oleh karena itu aku ingin kita mengadakan game disaat reuni. Beberapa kali rapat, konsep kita semakin matang dan respon dari teman-teman angkatan gak ada yang negatif. 

Hari pertama nyampe di Padang, di malam harinya, aku bertemu dan berkumpul dengan mereka, teman-teman panitia. Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu juga. Saat itu kita semua masih kelihatan canggung, masih belum menemukan feelnya, maklumlah udah lama. Semakin hari semakin ketemu dan lumayan makin dekat. Tapi ada satu kendala yang kadang membuat kita ragu dengan acara ini, sukses atau enggaknya. Iyuran reuni tak kunjung terkumpul, padahal sebentar lagi hari-H. Malam itu, di hari terakhir pengumpulan dana, kita membagi tugas untuk menjemput iyuran tersebut ke rumah teman-teman. Kita bagi team, wilayah mana saja dan siapa saja yang menjemputnya dan hari itu masih suasana lebaran, pastinya setiap mampir dikasih minum dan kue lebaran dulu hahaha. Saat itu tak hanya untuk menjemput dana reuni, tapi juga silaturahmi.

Kita bekerja keras untuk membuat reuni ini sukses. Di hari-H saat kita bertemu dan berkumpul lagi, aku sangat bahagia bisa melihat mereka. Senyum mereka, tawa mereka. Hari itu aku puas banget karena acara kita sukses. Salah satu kenangan terindah yang aku dapatkan saat berlibur ke Padang dan itu membuatku akan selalu mengadakan reuni, walau tanpa aku.

*Terkadang aku heran sih dengan diriku sendiri. Kenapa gitu mau ngumpulin kontak temen yang banyak, susah-susah mencarinya, sibuk-sibuk sendiri dan bahkan membuat rekap data alumni. Aneh sih kadang, entahlah aku sendiri juga gak tau kenapa. Yang jelas aku senang aja ngelakuinnya dan pengen suatu saat nanti kita semua seangkatan benar-benar bisa ngumpu lengkap. Bagi teman-teman yang baca tulisanku ini, yang merasa bagian dari kita, yuuk kita kumpul lagi, comment disini atau hubungi aku yaa supaya dimasukan ke grup lagi :)



Aachen - Augsburg - Salzburg - Halle - Kassel

Libur telah tiba
Libur telah tiba
Hatiku gembiraaaaaa

Yup udah lama banget gue nunggu momen ini. Bukan nunggu liburnya sih, tapi nunggu waktu dimana gue bisa ketemu dan ngumpul lagi bareng temen-temen gue. Actually they are not only my friends, but my sisters. Love you guys!

AACHEN

Kali ini gue bareng Shahi mau nyusul Fio ke Aachen. Jauh hari kita udah mutusin buat ke Aachen dulu sih. Tapiiii karena gue yang plinplan dan masih labil buat mutusinnya, akhirnya Fio berangkat lebih awal ke Aachen. Tujuan utama kita ke Aachen itu sih sebenernya buat ngumpulin harta karun yang berceceran, alias kerja haha. 

Gue tinggal di Augsburg (Bayern), itu bagian Selatannya Jerman, sedangkan Aachen itu terletak di Jerman bagian Barat. Itu jaraknya, buset dah, jauh bener. Naik kereta aja tuh ngabisin waktu kira 10 jam. Kebayang gak sih lo capeknya gue duduk, sendirian pula, tambah ngenes kan. 

But wait, gak sengenes itu kok. Untungnya gue bisa pergi barengan sama Shahi. Yaa walaupun sebelumnya gue harus jemput dia ke Kassel dulu, karena kita beda kota. Songong banget yaa ngejemput. Soalnya kita pake Schönes Wochenende Ticket. Pastinya buat dapat tiket murah haha, mumpung lagi weekend. Itu tiket bisa digunain buat seluruh Jerman, terserah mau kemana aja, mulai jam 00:00  sampai 03:00 pagi. Lumayan banget kan.

Oh my god, rasanya tu yaa pas gue ketemu dia, alias Shahi, seneng bangeeet. Kita langsung pelukan, ketawa, teriak gak jelas. Satu per satu rasa kangen gue terobati. 

                                                ini foto gue bareng Shahi waktu di kereta

Seminggu di Aachen rasanya bentar banget, mumpung lagi liburan gue bareng yang lain mutusin buat jalan-jalan ke Augsburg, kota tempat gue menetap. Sebenernya mereka juga udah ngerencanain sih buat ke Augsburg. Tapi kemaren itu sempat bingung. Seandainya Elvi juga ikutan ke Aachen, berarti kita cukup di Aachen aja temu kangennya, mungkin jalan-jalan ke Amsterdam aja, lumayan dekat. Tapi dikarenakan Elvi gak bisa ikutan, akhirnya kita ke Augsburg aja. Lumayan juga bisa pake Schönes Wochenende Ticket lagi, soalnya weekend. 

Sebelum ke Augsburg, kita ketemuan dulu sama Elvi di Würzburg sekalian jemput dia juga. Gue, Shahi dan Fio nyampe duluan di Würzburg, karena keretanya Elvi ada keterlambatan. Kira-kira 1 jam kita nungguin Elvi disana, sekalian bungkusin kado buat Elvi juga disana. Untung aja Elvi datangnya telat, lumayan kita bisa bungkus kado dulu hehe.

Kado selesai, Elvi juga udah datang, perjalanan kita lanjutkan. 

***

AUGSBURG

Tak lama kemudian kita sampai di Augsburg. Udah malem banget dan capek, kita putusin buat langsung ke rumah aja. Jalan-jalan keliling kota Augsburg dilanjutkan esok hari.

Pagipun datang, biasa lagi libur, kita cewek-cewek masih menikmati tidur, apalagi winter gini. Ketika hari mulai siang, kita keluar dari rumah dan mulailah bersenang-senang menikmati kota Augsburg.

Perjalanan pertama kami dimulai dengan mengunjungi City Gallery. Itu sih mall yang ada di Augsburg. Muter-muter keliling mall, nemu all you can eat, shushi pula, langsung deh diserbu haha. Lumayan bisa makan sepuasnya. Sebenernya inti kita milih makan beginian sih buat nikmatin sea food juga.


Perut udah kenyang, tenaga udah full lagi buat jalan. Yuuk kita ke Zentrum sekalian ngeliat Christ Kindlesmarkt. Gak beli apa-apa sih, cuma liat-liat doang.




lucu banget kan

Keesokan harinya kita berangkat ke Salzburg. Salzburg merupakan salah satu kota di Austria yang jaraknya cuma 2-3 jam dari Augsburg. Mumpung dekat tuh dan kita juga bisa makai Bayernticket, kenapa enggak. Saatnya mengunjungi negara tetangga.

SALZBURG

Kotanya cantik banget, apalagi ini kota kelahirannya Mozart. You know what? Ini perjalanan pertama kita ke negara orang tanpa guide. Dulu sih ke Maastricht Belanda masih ada senior yang ngedampingin, nah sekarang, beneran jadi turis. Tanpa berpikir panjang kita mutusin buat ke pusat kotanya dulu. Darisana kita keliling sampai ke Festung Hohensalzburg. Darisana kita bisa menikmati keindahan kota Salzburg. Tapi sayangnya perjalanan gak kita lanjutin, ternyata bayar bro buat masuk kesana haha. Tapi tak apa, di setengah perjalanan menuju Schloss, kita masih bisa menikmatinya kok.



Festung Hohensalzburg


Alte Brücke


sedia bekal sebelum lapar




Setelah puas berjalan-jalan di Salzburg, saatnya pulang. Sebelum masuk kereta ternyata Pasport dicek dulu. Fio sama Shahi ternyata kelupaan bawa Pass, untung aja bapaknya baik, ngebolehin kita tetep masuk kereta dengan modal kartu mahasiswa. Awalnya kita bingung sih kenapa dicek segala, gak kazak biasanya. Oh iya kan udah beda negara, pantesan ckck.

Plannya sih mau ke München, tapi karena udah malem banget, kita langsung ke Augsburg aja.

***
Disuatu malam kita asik bercerita, mengingat cerita lama. Sembari bercerita rasa kangen ini muncul. Rasanya pengen banget ketemu dan kumpul bareng teman-teman sesumbar dulu. Pengen tau kabar mereka, bercerita dan tertawa bersama.

Jeng jeng jeng..... Idepun bermunculan. Akhirnya kita berempat memutuskan bagaimana kalau kita temu kangen aja, mumpung lagi libur. 

Respon yang kami dapat juga alhamdulillah baik. Akhirnya kita putuskan Kassel sebagai destinasi selanjutnya.

Tapiiii sebelum Kassel yuk mampir dulu ke Halle 

HALLE (SAALE)

Kadang yang mendadak itu lebih asik!
Beneran deh kali ini beneran mendadak banget. Lo bayangin aja, bangun tidur udah siang banget. Waktu udah bangun, langsung cerita-cerita.

     Eh kita ke Halle dulu aja yuk, ke tempat Fio.
     Yuk yuuuk kan Halle - Kassel gak jauh.
     Kapan nih ke Halle?
     Sekarang aja yuuuuk
     What?! Sekarang banget?
     Iyaaa sekarang aja
     Coba cek Verbindung deh
     Ada nih nyampe nya jam 10 
     Yaudah yuuk cabut sekarang

Jeng jeeeeng. Kita siap-siap, packing barang, langsung cabut. 
Bayangin aja, dalam 15 menit lagi kereta bakal berangkat dan kita masih di rumah. Otomatis gak bakal keburu kan. But we didn't care. Kita tetap jalan keluar, bawa koper masing-masing, jalan super cepat menuju stasiun.

We did it! Keburu sih udah lari-lari, pas banget di detik terakhir kita nyampe di depan pintu kereta, tapiii tiba-tiba kita bingung, naik apa enggak, soalnya belum beli tiket. Kan mampus kalau ada pemeriksaan, dendanya banyak banget bro, gak kuaaat. Lagi pangling gitu, yaudah masuk aja, ntar beli tiketnya sama petugas di dalam kereta aja. Baru melangkahkan kaki ke dalam nih, eeh pintunya udah ketutup, gak bisa dibuka lagi, byebye kereta hahaha.

Akhirnya kita cari Verbindung lain dan itu masih lama banget, kira-kira 2 jam lagi. Bosan banget gak sih nunggu di stasiun, apalagi itu bukan Central Trainstationnya, gak ada apa-apa. So, kita mutusin buat ke Central Trainstation dulu. 

Sebelum berangkat gue mutusin buat beli tiket dulu. Ternyata antriannya lama juga, banyak orang yang udah pada berdiri di depan mesin tiketnya. Ada datu ibu-ibu lagi yang berdiri di depan gue, dan disaat yang bersamaan kereta kita juga udah datang. Dari kejauhan temen-temen gue udah teriak, "Buruaaan keretanya udah mau berangkat nih, gak usah beli tiket dulu." Tapi gue tetep aja berdiri disana, lanjutin beli tiket. Finally I got it. Tiket udah ditangan, gue langsung lari, naikin tangga, yup akhirnya bisa juga, untung si bapak mau nungguin kita bentar haha. Dan parahnya lagi, ternyata di dalam kereta yang lagi kita naikin ini ada mesin tiketnya juga. Apesapees hahaha dibawa ketawa aja yaaa.

Perjalanan kita ke Halle bener-bener jauh banget. Kita bakal nyampe disana pukul 00:45. But it's okay, selagi kita masih bersama.
ini kita lagi di kereta

Selama di Halle kita hanya di kamar, gak kemana-mana, soalnya juga lagi natalan, gak ada toko-toko yang buka. Ternyata di tempatnya Fio juga gak banyak bahan makanan. Mau makan apa nih kita? Yaudah makan apa aja yang ada, ulai dari kentang, telur, bihun dan cireng. Itu gak ada nasi sama sekali. Yaa sekali-sekali jadi bule dulu lah, yang gak makan nasi.

Terus WiFi nya lagi ngadat juga, gak bisa ngapa-ngapain. Tapi kita tetep senang. Ngabisin waktu cerita, ketawa dan permainan yang gak bikin bosen Truth or Dare.

Kegiatan kita itu terus selama tiga hari disana.

***

KASSEL

Ini perjalanan terakhir kita, kota tempat Shahi menetap dan disana kita juga bakalan ketemu sama temen-temen Sumbar yang lain.

Tiga hari di Kassel memang sebentar banget. Tapi begitulah karena beberapa orang teman kita bakal ujian akhir.

Seneng banget bisa ketemu mereka lagi, kira-kira udah 1-2 tahun gak ketemu. Rasanya deket banget, namanya juga seminang, pastinya seru banget.

Kebanyakan kegiatan kita sih di rumah Agung. Tapi itu emang keputusan yang tepat, biar waktunya bisa diamnfaatin sebaik mungkin dibanding jalan-jalan keluar, gak ada Qtime nya. 

Hari pertama sampai, kita langsung menuju rumah Agung. Udah malem juga sih kita nyampe disana. Abis makan, cerita bentar, terus main werewolf deh. Semua student disini gak asing lagi dengan permainan ini. Bosen? Yuk main Truth or Dare. Tapi gak bertahan lama sih, soalnya udah subuh haha. Udah jam 5 pagi nih, akhirnya kita yang cewek-cewek pulang, alias ke rumah Shahi. Nunggu pagi dulu yaa baru pulang.

Keesokan harinya kita pergi ke Herkules. Salah satu destinasi wisata kota Kassel. Kita harus mendaki buat sampai kesana, capek banget tapi gak kerasa kok asal kita bareng dan menikmatinya.
 somewhere in Kassel





Agung said: raso ka den bowling se nan cewek-cewek ko
Awalnya udah senyum manis, tapi karena Agung tuh jadi ketawa gitu

Foto Bersama

Ini bener-bener liburan gue. Kalau dulunya saat libur mesti belajar lah, kerja lah, tapi kali ini bisa liburan gaaeess, apalagi bareng kalian. Pengen diulang lagi, ayoo kita ketemu lagi nanti yaa.

Sama-sama semangat belajarnya, biar nanti liburan ketemu lagi. 

Gak tau deh ini beneran apa enggaknya, atau lebay atau baper. Padahal baru di hari itu pisah, malamnya udah skype lagi, beneran langsung kangen. 



Sedikit Coretan

Malam sunyi tanpa bintang. Pagi menjelang tapi kicau burung tak sedikitpun terdengar. Siang menjelma, tapi mentari bersembunyi dibalik tebalnya kabut.

Kali ini hati terasa sesak. Ingin rasanya berteriak. Tapi mulut ini seakan bungkam

Mataku mulai berkaca-kaca. Dia mencoba kembali membendung. Tapi tak bisa

Kedua tangan mulai menengadah. Tapi seketika air mata ini berjatuhan. Hingga semuanya pecah. Suasana menjadi semakin tak menentu.

Seharusnya kisah ini belum saatnya untuk diceritakan. Tapi apa daya, tak sanggup lagi hati menyimpan.

Papa, dengarkan aku. Dari kejauhan aku berkata. Sebenarnya pribadi ingin berterus terang, tapi hati mengalami penolakan. Tak sanggup ia melakukannya.

Terkadang pertanyaan muncul pa di benakku. Apa ini semua salah ku? Apa aku penyebab semua kejadian buruk ini. Seandainya pribadi ini tak egois, mungkin semuanya gak akan terjadi. Mungkin kita masih bisa hidup enak di istana kita. Mungkin adik-adik semua masih bisa bahagia seperti dulu.

Liat sekarang keadaan kita. Aku tak bisa memperbaikinya.

Ingin rasanya aku keluar, tapi masih belum bisa. Hanya ucapan terimakasih untukmu yang bisa aku berikan. Kau berikan segalanya untukku. Ini itu kau lakukan. Bahkan aku juga menambah beban berat di keluarga kita.

Maafkan aku pa, bukannya aku membahagiakanmu, tapi malah membuat keadaan semakin keruh.

Mama, aku minta maaf. Disaat mama mebutuhkanku, aku malah tak bisa membantu. Aku salah aku minta maaf ma. Aku begitu egois. Sekarang bebanmu semakin bertambah kan ma?

Aku tak tau lagi mesti gimana ma. Aku masih belum bisa membuatmu benar-benar tersenyum.

Tapi disisa waktu yang aku miliki ini, aku akan terus berjuang untuk mu ma. Untuk kita semua. Untuk mama, papa dan adik-adik, bahkan untuk seluruh keluarga besar kita.

Mungkin terkadang hanya kata semangat yang aku miliki. Di realita sulit aku mewujudkannya. Tapi begitulah, apapun keadaan aku seharusnya memang terus semangat.



Naik dan Turun Gunung Pilatus dengan Total Waktu 13 Jam

Sejak SMA aku suka "pergi ke alam". Entah itu pergi ke gunung, goa atau hanya sekadar menginap di hutan. Tergabung dalam ekskul ...