Pergi untuk Kembali. Menjauh untuk Mendekat.

Teruntuk hati yang telah memilih. Jangan biarkan diri terjebak diantara hitam dan putih


Perihal hati siapa yang tahu? Sampai kapanpun ini tetap menjadi rahasianya dengan Sang Pemilik Hati. Hanya Dia yang setia mendengar dan memberi jawaban. Setiap saat, tanpa hambatan, 24 jam selalu available.

Hati kadang sulit ditebak dan ibarat mata air, sumber dari segala kehidupan. Tempat setiap makhluk hidup bergantung. Sekali ia tercemar, maka semuanya mendapat imbas. Jika ia teracuni, maka ikut sertalah racun itu melukai.

Sebut saja namanya Bintang dan lelaki itu Bulan. Bintang dan Bulan yang saling melengkapi malam. Tidak seperti biasanya. Akhir-akhir ini malam terasa sunyi, langitpun mulai sepi. Biasanya Bulan dan Bintang selalu menjadi teman setia malamku. Mendengar segala curahan hati sebelum aku masuk ke dunia mimpi. Berharap setiap cerita itu bisa mengantarku pada mimpi indah, sebagai hiburan, pelarian dari dunia nyata.

Tidak seperti biasanya. Bulan dan Bintang tidak lagi saling membalas senyum. Mereka tidak lagi muncul bersamaan. Disaat Bulan datang, aku tidak melihat keberadaan Bintang. Disaat Bintang berkelap kelip, Bulan malah kelabu tertutup awan. Aku mulai merasa ada yang aneh. Ada apa dengan malamku? Ada apa dengan mereka? Aku coba mencari jawaban dari setiap pertanyaanku itu, masuk ke dunia mereka, meraba, menguatkan rasa. Dan ternyata, atmosfer langit sedang gundah. Panas dan dingin yang tidak lagi sinkron.

Ada apa dengan mereka? Dulu saat aku belum berteman dekat, memang ada jarak yang memisahkan mereka. Keduanya hanya sibuk dengan diri masing-masing. Tetapi siapa yang tahu, ternyata selama ini mereka saling memendam rasa. Tidak ada yang salah memang dengan rasa. Tapi mungkin lebih tepatnya bagaimana kita mengendalikan rasa itu.

Hingga suatu hari, mereka mulai memotong jarak itu. Perlahan saling mendekati satu sama lain. Mulai menyelami pribadi masing-masing. Siapa sangka, jarak itu mulai tidak terlihat meski sebenarnya dia ada. Keduanya mulai tahu isi hati masing-masing. Walau kadang ungkapan rasa itu selalu melalui konotasi dan perumpamaan.

Bulan dan Bintang ingin selalu bersama. Tapi kali ini mereka mulai menjauh. Sepertinya serpihan meteor mulai menyadarkan mereka. Lalu lalang diantara keduanya hingga jarak kembali muncul membatasi mereka.

Kini keduanya hanya bisa saling memandang. Berharap suatu waktu bisa kembali bersama. Saat dimana jarak tidak ada lagi diantara keduanya. Baginya Bintang, ia masih tetap mengingkan Bulan, karena sampai kapanpun hanya ada satu bulan di langit. Bagi Bulan, ia pun juga sudah memilih satu bintang. Dengan harapan besar, pilihannya ini tidak akan membuatnya kecewa. Mungkin sekarang belum saatnya, tapi tetap baginya, Bulan adalah motivasinya.

No comments:

Post a Comment

The Virtual Friend - Akhirnya Terbit!

[literally as writer] Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tapi, ternyata tidak semua hal yang berhubungan dengan penantian itu me...