Awal yang Manis di Ramadhan 1438H

Marhaban ya Ramadhan. Bulan penuh rahmat. Bulan yang dirindukan oleh umat Islam, begitupun halnya denganku. Bulan Ramadhan selalu menyimpan banyak cerita. Aku masih ingat bagaimana cerita Ramadhanku dulu saat masih kecil. 

Nostalgia Masa Kecil

Masih jelas teringat olehku bagaimana hari itu untuk pertama kalinya aku bisa berpuasa penuh. Dari shubuh hingga adzan maghrib berkumandang. Bagaimana aku menghabiskan sisa hari berjalan-jalan sore bersama Papa dan adik-adikku.

Sore itu, jam di dinding menunjukan pukul enam sore. Sebentar lagi sirine berbunyi sebagai tanda masuknya waktu berbuka puasa. Setelah itu dilanjutkan dengan ucapan selamat berbuka puasa yang terdengar melalui pengeras suara masjid. Tidak lama. Adzan maghribpun segera berkumandang. Tiap-tiap muadzin dari masjid yang berbeda mulai mengumandangkan adzan. Terdengar seperti sedang sahut-sahutan. 

Aku tertidur di lantai. Tampak letih dan pucat. Mungkin karena itu hari pertamaku mencoba puasa penuh dan itu juga hari pertama di bulan Ramadhan. Orang-orang pernah berkata kalau hari pertama Ramadhan, puasa itu terasa lebih berat. 

Tidak lama papa pun datang, setelah seharian bekerja di kantor. Papa tampak iba melihatku. Mungkin dia tidak tega melihat penampakanku saat itu. Bibir pucat dan kering, tertidur lemas di lantai. Papa pun bertanya, apakah aku masih kuat untuk tetap lanjut berpuasa. Masih sekitar setengah jam lagi. Sayang sekali untuk dibatalkan.

Akhirnya papa mengajakku untuk jalan-jalan sore sambil menunggu bedug maghrib. Kami pergi ke tepi pantai dan tentunya ke pasar takjil. Dia membelikan apapun yang aku mau. Makanan dan minuman sangat menggoda saat itu. Efek berpuasa yang membuatku ingin membeli banyak makanan. 

Setelah itu kami kembali ke rumah. Tampak makanan tertata rapi di lantai. Sebentar lagi waktunya untuk berbuka puasa. Adzan maghrib berkumandang. Aku berhasil melewati hari pertama puasaku. Papa dan mama sangat senang dan begitupun denganku. 

Ramadhan ke-4 di Jerman

Salam dari Augsburg


Berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, tahun ini menjadi Ramadhan dengan awal yang sangat manis. Manis seperti taburan gula bubuk di atas roti.

Tahun ini aku dan teman-teman melewati hari pertama Ramadhan bersama-sama. Mereka aku undang datang ke kotaku untuk tarawih perdana, sahur perdana dan tentunya buka puasa perdana bersama. Ini akan menjadi awal cerita yang menarik di bulan penuh rahmat ini.

Pagi mereka berangkat dari kota masing-masing. Itu akan menjadi hari yang melelahkan. Sudah terbayang olehku betapa lelahnya itu. Menempuh perjalanan hingga enam jam dengan kereta dan bus. 

Sesampai mereka disini, langsung kuhidangkan makanan super lezat yang pernah ada. Makanan yang dirindukan dan selalu ada di bulan Ramadhan. Semuanya tampak menikmati rendang yang telah aku masak pagi harinya sebelum kedatangan mereka. Berwarna coklat pekat dan pedas. Rasa capek mereka setidaknya terbayar dengan makanan itu pikirku.

Kami pikir semuanya akan berjalan seperti yang kami rencanakan. Tapi ternyata Allah punya rencana lain. Skenario yang tidak terduga. Kejutan di awal Ramadhan.

Esok harinya aku dan teman-teman menikmati keindahan kota Augsburg. Hari yang cerah, panas dan orang-orang juga tampak menikmati siang itu. Kami berjalan menelusuri tiap gang yang ada di pusat kota Augsburg. Berdiri di depan balai kota dan tentunya juga ada pengabadian moment. Kami berhenti di setiap tempat menarik guna mengambil beberapa foto.

Kemudian aku mengajak mereka untuk mampir ke salah satu toko ice cream dan menikmati lezatnya ice cream disana. Ada banyak varian rasa dan harganya juga tidak mahal. Aku memilih satu skup ice cream rasa vanilla bercampur Nutella dan satu skup lainnya rasa cookies. 

Summer memang waktu yang tepat untu es krim

Kami duduk santai di pinggir jalan yang di sampingnya ada aliran sungai kecil. Airnya jernih tanpa ada sampah sekecil apapun itu. 

Setelah satu jam duduk disana kami bergegas menuju halte tram. Kereta dalam kota yang menjadi salah satu alat transportasi disana. Kami diundang oleh Om Atin dan Tante Vitri sekeluarga untuk mampir ke rumah mereka dan makan disana. Ini merupakan undangan spesial berhubung teman-temanku ada di Augsburg.  

Sesampai disana kami disambut dengan senyum ramah dari mereka. Ada Akmal dan Putri. Mereka adalah putra dan putri dari Om Atin dan Tante Vitri. Keduanya bersekolah disini.

Tidak lama setelah itu Uni Titin dan Om Luqman juga datang. Mereka juga orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Augsburg. Kami semua berkenalan, asyik bercengkrama sambil menyantap makanan Indonesia yang sudah disediakan.

Hari yang luar biasa bagiku dan teman-temanku. Aku senang karena aku bisa membagi kebahagiaan ini bersama mereka. Selama ini aku selalu bercerita bagaimana rasanya aku bertemu dengan keluarga-keluarga ini. Mereka semua orang-orang baik dan sangat perhatian. Akhrinya hari itu teman-temanku juga bisa merasakannya. Banyak makanan terhidang untuk kami. Mulai makanan berat seperti bakso dan lontong kari, hingga cemilan Indonesia seperti tahu isi, risoles dan cemilan lainnya.  

Kurang lebih 2,5 jam kami disana. Tiba-tiba percakapan kami terhenti saat Tante Vitri bertanya "Teman-temannya Icyn sudah kemana saja di Bayern?". Sambil tertawa aku menjawab "Belum kemana-mana tante".

Dengan spontannya Uni Titin langsung mengajak Om Luqman untuk pergi ke suatu tempat di dekat Augsburg. Tempat menarik di ketinggian, di lingkungan perbukitan. Tanpa berpikir panjang Om Luqman langsung mengiyakan, begitu juga Om Atin dan Tante Vitri.  

Kami shock dan tertawa bahagia. Ini benar-benar diluar ekspektasi kami. Ucapan kami terkabulkan. Sebelum ke rumah tante Vitri sempat terucap kalau semua ini bakalan lebih enak kalau kita piknik bersama. Makan di taman. Dan ternyata hal itu terkabulkan. Setelah makan bersama di rumah tante Vitri, kami berangkat ke Auerberg di Allgäu. 



Tempatnya romantis banget, di lingkungan perbukitan. Kami menelusuri jalanan setapak. Melewati sapi-sapi dan rerumputan hijau. Kurang lebih 10 menit kami sampai di tempat yang menjadi tujuan kami. Menikmati panorama dengan langit orange dan jingga. Dari sana tampak jejeran pegunungan Alpen yang tertutupi salju. Keindahan yang luar biasa.

 

Sehabis maghrib kami kembali ke Augsburg. Dan ternyata tidak diantar langsung ke rumah. Kami mampir lagi ke rumah tante Vitri. Tante membekali kami dengan makanan untuk sahur. Semua menu yang tadi sudah kami makan dibungkus dan dibawa pulang untuk makan sahur. Speechless dan haru sama kejadian hari itu. Benar-benar nikmat dari Allah yang tidak pernah diduga.

Sesampai di rumah, kami makin speechless karena ada kado tersembunyi yang sudah disiapkan tantenya. Ada kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado, bertulisan nama kami. 

Inilah awal Ramadhan yang sangat manis. Semoga kebaikan mereka dibalas lebih oleh Allah dan kamipun bersyukur bisa dipertemukan dengan keluarga-keluarga seperti mereka.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan bathin :)


No comments:

Post a Comment

The Virtual Friend - Akhirnya Terbit!

[literally as writer] Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tapi, ternyata tidak semua hal yang berhubungan dengan penantian itu me...