Saat Pertama Aku Mengenalnya

Inilah kelanjutan dari cerita bersambung yang aku dan teman-teman sudah sepakati. Seminggu yang lalu, temanku Elvi telah menulis cerita pertama dan minggu ini tibalah giliranku untuk melanjutkannya. Cerita pertama bisa teman-teman baca di https://elviefriani.wordpress.com/

***

Tepian sungai Rhein, salah satu keindahan kota yang tidak bisa aku pungkiri. Airnya yang bening dan berkaca-kaca akibat pantulan teriknya sinar matahari siang itu, menambah kesan romantis yang hangat. Patutlah banyak orang menikmati harinya dengan duduk-duduk santai di bawah pohon rindang di tepian. Tidak sedikit juga pasangan muda mudi yang ikut serta berperan melanjutkan kisah drama percintaan mereka.

Tidak terasa sudah bejam-jam aku nikmati sudut kota ini dengannya. Lelaki tinggi berambut hitam itu bernama Arlan. Kedatangannya saat itu membuatku sedikit kaget. 

Kali ini langkah kami arahkan menuju DiTiB, sebuah mesjid Turki yang berada di kota Kรถln. Inilah mesjid terdekat, yang berada tidak jauh dari pusat kota. 

"Mel, kita perlu naik tram gak kesana?", ia bertanya kepadaku.

"Enggak sih Lan, deket kok, cukup jalan kaki aja. Lima belas menitan juga nyampe" jawabku.

"Oalah deket juga, gapapa deh sambil nikmatin sunset, yaa walaupun lebih indah kalau diliat dipinggiran pantai" ucapnya.

Eropa kental sekali dengan arsitektur bangunannya yang klasik. Sembari berjalan menuju mesjid, kami masih bisa menikmati keindahan kota senja itu. Warna jingga bercampur oranye mulai datang menyapa. Keramaian kota ikut perlahan berganti dengan ketenangan. Damai rasanya.

Tiba-tiba aku teringat dengan hari itu, pertemuan pertama kami. Masih jelas terngiang olehku betapa lembut suara itu, saat ia mecoba memanggil namaku untuk pertama kalinya. Penampilannya membuatku berdecub kagum.   

"Hai Melani", ia mulai menyapa.

"Eh iyaa, hai Arlan" balasku.

Kami tidak melalui proses perkenalan formal. Awalnya kita sudah saling tahu, hanya saja tidak pernah menyapa. Paling hanya sebatas berbalas senyum. Itupun bisa dihitung dengan jari.

Di siang itu kami tidak banyak bicara. Auranya masih terkesan kaku. Belum ada bumbu-bumbu tawa yang bisa dibagikan. Penampilannya saat itu membuatku sedikit pangling. Untung saja aku bisa menyembunyikan raut wajahku yang tersipu malu itu. 

Perihal minuman keras itu aku masih belum berani untuk bertanya. Saat aku berkunjung ke rumahnya, botol-botol itu masih menjadi pajangan pelengkap, penghias ruang tamunya. Perkenalan kami yang singkat masih mengurungkan niatku untuk menanyakannya. Aku tidak mau menginggung perasaannya dengan pertanyaan bodoh yang bisa saja membuatnya kesal.

Sedang asyiknya mengingat masa lalu, tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkanku. 

"Mel, mau kemana? Nih mesjidnya bukan? teriaknya.

"Eh iyaa, kan ini dia mesjid yang kita cari. Aduh sorry hehe" ucapku malu.

"Hayolo Mel, ketahuan lagi ngelamun. Mikirin gue ya?" ledeknya padaku,

"Apaan sih, yakali mikirin lo. Jangan kepedean" balasku.


Augsburg, 20 Januari 2017

No comments:

Post a Comment

The Virtual Friend - Akhirnya Terbit!

[literally as writer] Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tapi, ternyata tidak semua hal yang berhubungan dengan penantian itu me...