Curahan Hati Anak Rantau

-Disaat Kamu Sadar Bahwa Allah Penulis Skenario Terbaik-

Pernah gak sih berpikir kenapa kita harus sekolah, belajar setinggi mungkin, kemudian bekerja padahal pada akhirnya semua akan pergi meninggalkan segala kefanaan dunia ini? 

Saat itu aku sedang duduk santai di pinggir danau di sudut kota. Cahaya matahari yang sangat terik membuatku lebih memilih untuk berteduh di bawah rindang pohon pinggir danau. Aku bersandar di batang pohon besar yang kuat beralas rerumputan hijau lembut. Sejauh mata memandang aku melihat banyak kebahagiaan. Setiap orang tertawa, saling bercanda. Ada yang berkumpul bersama teman sebaya, keluarga bahkan muda mudi yang sedang merajut benang cinta. Tidak ada tangisan yang kudengar selama disana. Hanya teriakan tawa setia menjadi backsound peningkat emosional.

Seketika aku tersadar ketika melihat sekelompok anak kecil sedang bermain bersama. Terlihat jelas di wajah mereka lukisan kebahagian yang belum bebercak hitam realita kehidupan. 

"Mungkin aku juga seperti ini dulunya" pikirku. 
"Menikmati masa kecil, naif dengan anggapan bahwa hidup ini mulus tanpa jurang, lika liku kehidupan."

Hidup memang memiliki banyak kejutan. Setiap jalan yang kita ambil memberikan penawaran yang berbeda. Kita bebas mau mengambil jalan yang mana. Tapi bagaimana jika tiba saatnya untuk memilih. Pada saat kita berada di persimpangan, pertigaan ataupun perempatan. Di tempat itu juga kita harus memilih sesegera mungkin. Keadaan semakin genting dengan banyaknya mobil yang lalu lalang.

Inilah hari terakhir penghujung tahun 2016. Tidak lama lagi tahun 2017 siap datang menyapa bak matahari yang bersiap menerbitkan cahaya jingga oranye di musim dingin. Perpaduan warna yang menimbulkan kesan romantis saat dipandang. Selamat tinggal tahun 2016. Akhirnya berlalu juga tahun yang begitu berat, penuh sesak di dada. Semoga penggantimu tahun 2017 memberikan setiap hari penuh tawa.

Inilah kisahku selama tahun 2016. Aku bercerita bukan karena aku cengeng, bukan karena aku ingin diperhatikan. Kusimpan abadi di tulisan ini sebagai pengingatku nanti, bahwa yang pahit itu belum tentu abadi dengan kepahitannya.

Hidup di rantau orang, tanpa orang-orang tersayang yang 24 jam siap sedia. Tinggal di Jerman tanpa keluarga yang bagiku biasa ternyata membuat sebagian orang juga berdecak kagum. Kamu benar-benar cewek yang berani, tingggal sendiri tanpa keluarga. Tidak sedikit orang yang pernah melontarakan ucapan itu kepadaku.

Jerman tempatku meniti jembatan kesuksesan yang membangunkanku dari kenaifan. Hidup itu tidaklah mudah! Satu dari sekian banyak pelajaran yang bisa aku ambil disini. Jika aku boleh jujur, sampai sekarang aku masih di jalan kerikil dengan jurang di kiri kanan. Kapan saja bisa terjatuh.

Tapi untungnyu aku punya Allah yang senantiasa berada di sisiku. Dia tidak pernah membiarkanku terjatuh ke jurang yang dalam itu. Mungkin sesekali Dia pernah mengejutkanku, menyadarkanku bahwa aku masih tetap harus berjalan meskipun masih dengan kerikil ini. Dia selalu mengingatkanku bahwa di ujung jalan ini ada mata air yang bisa menyelamatkan banyak orang di tempatku sekarang.

Selama berada disini aku semakin memegang perkataan bahwa dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Ada hikmah dibalik setiap kejadian. Sehebat-hebatnya penulis skenario, Allah lah yang terbaik dan terhebat. Jalan cerita yang ditulis-Nya selalu tidak pernah bisa diduga.

Aku pernah berada di posisi dimana aku merasa rendah, dimana aku bagaikan seseorang yang mengemis belas kasihan dari orang lain. Posisi roda yang sedang di bawah yang berusaha sekuat tenaga untuk bisa berada di atas lagi. Sebenarnya aku sedikit malu mengakui ini. Permasalahanku dengan uang belum pernah ada habisnya. Disaat uang belum bisa menjadi temanku.

Aku mengadu kesana kemari, berharap mereka bisa membantuku. Semua kepahitan itu dimulai di akhir tahun 2015. Saat itu aku baru-baru saja pindah ke Augsburg. Di kota ini aku akan melanjutkan hariku untuk mencapai kesuksesan. Aku tinggal bersama seorang ibu dan anak yang juga berkebangsaan Indonesia. Sebut saja dia Bu Rara. Awalnya aku ingin tinggal di asrama kampus, tapi sayangnya aku tidak kebagian tempat. Semua kamar sudah penuh. Untungnya ada seorang teman yang mengenalkanku dengan Bu Rara. Aku menyewa kamar anaknya yang tidak dipakai lagi. Kamarnya memang tidak luas, tapi cukuplah bagiku. Jika aku tidak menerima penawaran ini, entah dimana aku akan tinggal. Orang Indonesia yang disini juga tidak banyak. Merekalah orang pertama yang aku kenal.

Di awal tahun 2016 aku mulai mencari pekerjaan baru. Kerja sambil kuliah adalah sebuah keharusahan bagiku sekarang. Sudah dua tahun ini aku tidak lagi dikirimi uang oleh orangtuaku. Bukan hanya karena mereka yang tidak mungkin lagi bisa mengirim, tapi sekalipun ada, aku juga menolaknya. Lebih baik mereka gunakan saja itu untuk keperluan disana atau untuk adik-adikku. Bukannya belagu atau gimana, tapi kalaupun mereka mengirim, nilainya tidak akan tinggi disini. Maklum saja karena bedanya mata uang yang kita pakai.

Mencari pekerjaan di kota Augsburg ini juga tidak mudah ternyata. Dengan sisa gaji kerja full time di musim panas tahun 2015, aku coba sehemat mungkin hingga cukup dipakai sampai bulan Februari 2016. Aku tetap terus mencari pekerjaan. Sudah berpuluh-puluh email aku kirimkan. Tetapi masih dengan jawaban penolakan dan bahkan tanpa jawaban sama sekali.

Beberapa hari setelah itu aku mendapat jawaban dari klinik kesehatan. Disana aku mendaftar sebagai mahasiswa yang membantu perawat. Sebenarnya aku juga kurang yakin kalau aku akan diterima. Apalagi aku bukan mahasiswa di bidangnya. Tetapi masih dengan keoptimisan dan semangat, aku tetap mengikuti interview saat itu. Ternyata memang benar. Aku ditolak.

Aku tunggu jawaban dari yang lainnya. Sebulan tidak ada kabar sama sekali. Uang ditabunganku sudah habis. Aku bingung bagaimana caranya aku bisa membayar sewa kamar. Aku juga baru kenal dengan Bu Rara. Oke, aku pinjam dulu uang temanku walau sedikit malu,

Aku tetap mencari pekerjaan, tetapi masih juga belum ada yang diterima. "Bentar lagi awal bulan, gimana nih caranya bisa bayar sewa. Kerjaan aja gak dapat juga sampai sekarang" ucapku. Perlahan aku mencoba menceritakannya kepada Bu Rara. Tentunya perasaan malu masih awet denganku. Untung saja Bu Rara bisa mengerti keadaanku. Tetapi walaupun begitu, aku tidak putus asa untuk mencari pekerjaan.

Awal musim semi aku mendapatkan pekerjaan di gudang paket pos dan DHL. Aku mengikuti interview dan percobaan kerja. Di hari percobaan itu aku bekerja sebaik mungkin dengan harapan besar bisa diterima. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Takdir baik berpihak kepadaku. Akupun kerja disana tetapi tidak lama, hanya 2 bulan saja, Mereka tidak mau mempekerjakanku lagi dengan alasan pekerjaan itu terlalu berat untukku. Memang kalau aku boleh jujur lagi, pekerjaan itu memang bukan untuk seorang gadis berbadan kecil sepertiku. Disana aku harus mengangkat paket-paket dengan berat maksimal 35 kg dan meletakannya ke atas conveyor belt. Aku bekerja kurang lebih 6 jam per hari dan selama 3 kali per minggu. Terbayang bukan seberapa lelahnya itu? Ditambah lagi halte bus yang jauh dari gudangnya. Aku harus berjalan kira-kira 2 km untuk bisa kesana. Aku tidak sedih dengan pemberhentian ini. Aku pikir ini bukti sayang Allah kepadaku. Dia tidak ingin membiarkanku bekerja seberat itu. Cukup sudah waktu 2 bulan untuk pekerjaan berat itu. Hikmah yang bisa aku ambil. Dengan gaji dari kerjaku yang 2 bulan itu, aku mencoba melunasi sisa sewa kamar sebelumnya.

Pekerjaan sudah hilang, saatnya mencari pekerjaan baru. Saat itu aku berpikir, aku akan kerjakan pekerjaan apapun selagi itu halal. Semua pekerjaan aku daftar, tidak peduli itu jenis pekerjaanya apa. Aku mendaftar sebagai office girl dan pengantar koran. Memang gajinya kecil, tapi setidaknya bisa aku gunakan untuk kebutuhanku disini.

Hina sekali rasanya bekerja sebagai office girl di sebuah kantor pengiklanan dan website. Aku merasa sebagai pembantu, walaupun itu memang pembantu sih kalau diartikan ke bahasa Indonesia. Aku harus membersihkan setiap ruangan disana, membereskan dapur, mengepel lantai dan membersihkan toilet. Sedih rasanya hati ini, disaat aku harus mengerjakan pekerjaan seperti ini. Menangis? Untuk apa aku harus menangis. Aku seharusnya bersyukur karena Allah masih memberikan rezeki untukku.

Tidak lama setelah itu, aku juga bekerja sebagai pengantar koran. Setiap sabtu pagi aku mengantarkan koran ke tetangga-tetangga sekitar rumah. Dua pekerjaan telah aku dapatkan. Jumat aku bekerja sebagai office girl dan Sabtu sebagai pengantar koran. Tidak ada elitenya sama sekali.

Semua tidak cukup sampai disitu. Aku juga mendapatkan pekerjaan baru di salah satu gudang elektronik. Disana aku bekerja membantu mempacking barang-barang pesanan orang. Pekerjaannya tidak berat, hanya saja memang harus berdiri selama 6 jam. Aku bekerja di hari Sabtu.

Rezeki berlipat yang diberikan Allah untukku setelah pemberhentian di gudang paket itu. Aku sekarang mengerti, kenapa dulunya aku berhenti, Itu semua karena Allah sudah menyiapkan pekerjaan yang lebih baik dibanding sebelumnya. Sekarang sudah ada tiga pekerjaan yang aku lakoni. Jumat bersih-bersih di kantor, Sabtu pagi hingga siang di gudang elektronik dan sorenya mengantarkan koran ke tetangga. Rasa capek memang sering datang, terlebih di hari Sabtu. Sepulang kerja harus kerja lagi, Itulah perjuangan.

Aku bekerja juga hanya 2 bulan, karena sebentar lagi musim panas kembali datang. Seperti biasa, saat musim panas, aku bekerja di pabrik coklat yang ada di Aachen. Disana aku bisa bekerja full time 8 jam per hari. Tentu gajinya bakalan lebih tinggi. Aku berhenti dari pekerjaan office girl dan pengantar koran. Untuk pekerjaan di gudang elektronik, aku lebih memilih izin kerja dan menceritakan permasalahanku yang sebenarnya ke Manager. Untungnya dia mengerti dengan posisiku. Aku diberikan izin dan boleh bekerja kembali setelah liburan musim panas.

Di Aachen aku bekerja kurang lebih 2,5 bulan lamanya. Terbayang bukan seberapa banyak Euro yang sudah aku kumpulkan? Sayangnya itu semua bukan untukku. 75% gajiku habis untuk membayar tunggakan sewa kamar. Sisanya yang 25% akan aku gunakan untuk kebutuhanku di semester depan, setelah liburan musim panas ini berakhir.

Sayangnya semua diluar ekspektasi dan harapan. Ada sedikit permasalahan yang terjadi. Sampai-sampai kedua orangtuaku memberikan penawaran agar aku balik saja ke Indonesia dan belajar disana. Aku menolak dan selalu menolak. Mama menelfonku, aku angkat dan mencoba berkata semua baik-baik saja. Seperti biasa, aku selalu menyembunyikan itu darinya. Aku tidak ingin menyusahkan mama papa dan membuat mereka khawatir. Tetapi hati tidak bisa menolak, baru saja disaat mama berkata "Yaudah, kalau gitu mau gimana? Pulang sajalah ke Indonesia lagi.". Aku merasa sakit, sesak di hati setelah mendengar perkataan itu. Air mataku mulai menetes, membasahi bantal tempatku bersandar. Aku mulai terisak, karena begitu sesaknya. Mama memanggilku, tetapi aku tidak bisa menjawab. Dengan menyesal aku matikan telfon itu. Aku kirimkan pesan singkat bahwa aku tidak mau pulang dan akan tetap berjuang disini. Walaupun demikian mereka tetap memberikanku waktu untuk berpikir.

Aku bingung harus bagaimana. Di satu sisi aku masih ingin disini. Di sisi lain aku juga kasihan dengan mereka. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak fokus kuliah dan akibatnya sakit berminggu. Aku bercerita ke banyak teman dekatku. Jawaban masing-masing mereka berbeda dan ini membuatku semakin bingung. Akhinya dengan berat hati aku memilih pulang, tapi keputusan ini belum aku kasih tahu ke orangtuaku. Aku coba bercerita ke sahabatku yang ada di Jerman. Dari dulu kita sudah melalui suka dan duka bersama di Jerman. Mereka tidak mengizinkanku untuk pulang.

"Untuk apa kamu pulang? Kamu bisa kok Cyn lanjut disini. Masih ada cara lain untuk bisa bertahan." ucap salah seorang dari mereka.

"Iyaa Cyn, kamu itu biasanya kuat loh. Aku aja kagum Cyn, bangga sama kamu. Kerja kayak gitu, gak hanya untuk biaya kamu tapi juga kamu kasih ke keluarga kamu. Terus juga kuliah." tambah yang lainnya.

Perkataan mereka membuatku berpikir ulang. Sampai pada akhirnya aku berencana untuk memilih cuti kuliah saja satu semester. Aku full bekerja dan uangnya akan aku gunakan untuk biayaku semester depan. Tapi siapa sangka ternyata Allah memberikan jalan lain. Dia telah meyiapkan skenario yang tidak aku duga. Aku menemukan pekerjaan baru di Augsburg yang gajinya lebih besar dari gudang elketronik, tempatku bekerja dulu. Aku putuskan bekerja di tempat baruku ini dan kembali meminta izin ke tempatku yang lama.

Aku bekerja shift malam mulai dari pukul 21:45 hingga 06:00 CET pagi hari esoknya. Bekerja 8 jam per hari selama 3 kali seminggu di weekdays dan di hari Sabtu shift pagi dari pukul 07:00 hingga 15:15 CET. Dikarenakan pekerjaan ini yang hanya ada di akhir tahun menjelang natal, aku bekerja sebanyak mungkin untuk mengumpulkan Euro. Mungkin memang terkesan sedikit maruk, tapi cuma dengan ini caranya agar aku bisa bertahan dan membantu kedua orangtuaku. Kadang aku sempat berpikir, betapa tidak adilnya aku dengan tubuhku ini. Aku paksa dia untuk terus bekerja malam, bahkan terkadang pagi atau siangnya masih harus melakukan aktivitas yang lainnya. Aku pernah hampir ketiduran saat bekerja karena saking capeknya. Lucunya lagi sambil berjalanpun aku sempat hampir tertidur. Untuk pertama kalinya seperti itu. Memang benar capek, tapi satu hal yang aku pikir disaat perasaan itu datang, aku tidak akan lemah dan tetap kuat. "Elah Cyn capek apanya, kemaren ini kamu juga bilang gitu, tapi tetep aja kan bisa kerja sampai jam 6" ucapku memberi semangat kepada diri sendiri.

Begitulah sedikit perjuanganku disini, yang sampai sekarang aku masih belum bisa bangga akan hal itu. Aku merasa belum ada yang pantas aku banggakan karena aku belum menjadi orang yang sukses. Tetapi seorang sahabat berkata "Cyn seharusnya kamu bangga loh sama diri kamu sendiri. Aku aja bangga sama kamu Cyn. Aku gak nyangka kamu sekuat ini. Kamu kerja sambil kuliah, dan ini kerja malam loh, gak hanya sehari. Aku aja yang kerja di hari biasa sehari aja capek banget Cyn. Kamu seharusnya bisa mengapresiasikan diri kamu. Ditambah lagi dengan keadaan kamu yang selalu ditekan untuk tamat tepat waktu dan mendapatkan nilai tinggi. Kalu itu aku Cyn, aku gak akan sekuat kamu."

"Iyaloh Cyn, dan sekarang kamu udah menemukan dunia barumu sebagai penyiar. Kamu yang enjoy banget disana dan bisa menghilangkan stress kamu disini. Awalnya aku gak begitu yakin loh saat kamu bilang kamu akan jadi penyiar. Tapi sekarang kamu buktiin itu. Makanya nih aku gak akan ragu sama semangat kamu. Aku ingat saat kamu bilang, tunggu aja novelku keluar. Aku yakin suatu saat nanti itu semua bakalan terwujud" tambahnya.

Perkataannya itu membuatku terdiam, mungkin memang sepantasnya aku bangga dengan diriku ini. Dia yang masih bisa aku ajak kerja sama untuk bertarung melewati jalanan berliku ini. Begitulah teman, satu hal yang masih membuatku kadang sesak. Saat perjuanganku seperti ini, tapi mama masih mengingatkan aku untuk tamat tepat waktu dan nilai tinggi. Tentu saja harapan orangtua seperti itu, Pastinya dia ingin melihatku sukses. Insyaa Allah perjuanganku tidak akan pernah berhenti. Malah sebaliknya, dia yang mengajarkanku untuk selalu semangat dan optimis. Siapa yang tahu bahwa dibalik kesulitan itu, ternyata ada jalan lain yang telah disiapkan Allah untukku.

Inilah kisahku di tahun 2016. Selamat datang tahun 2017.


6 comments:

  1. Sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  2. Kudu nangis (pengen nangis) bacanya :"( terharu kacyn..TOI TOI TOI QAQA SS OF THE MILLENIUM!! Aku pindah jadi fans nya kacyn deh hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. duhduh jangan nangis :" (ikutan nangis). Maacih dindaaaa :* BUAHAHA berpaling fans

      Delete
  3. Salut...
    Dari thn lalu mulai ngulik perjuangan mahasiswa yg bljr di luar.
    Sll luar biasa,
    Bener" memperjuangkan hidup...
    Good luck kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih :) semangat juga dalam mencapai mimpi" kamu

      Delete

The Virtual Friend - Akhirnya Terbit!

[literally as writer] Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tapi, ternyata tidak semua hal yang berhubungan dengan penantian itu me...